Saat ini saya lagi teringat dengan salah satu kisah yang pernah saya karang dulu. Kisah yang cukup menarik bagi saya, dan dulu sempat saya publish di blog—waktu masih aktif. Genrenya fantasi, jaman-jaman kerajaan gitu. saya terinspirasi dari kisah luar biasa di dunia Middle-Earth karya almarhum J.R.R Tolkien. Kisah lengkapnya belum tersusun rapi soalnya waktu itu masih berupa potongan draft-draft.

Kisahnya menceritakan seorang pemuda yang bernama Aseera Tains dan petualangannya di dunia yang bernama… saya agak lupa… Yang saya ingat waktu itu nama pulaunya adalah Daingard. Jadi, Aseera ini tinggal di sebuah kota yang bernama Az Aera, sebuah kota di balik pegunungan. Kota ini sebenernya merupakan kota tertutup, sebab dilingkari oleh pegunungan-pegunungan terjal. Hanya ada dua jalan utama di sisi Utara dan Selatan—selain itu tidak ada. Makanya, makhluk-makhluk yang berada di dunia luar, sangat tidak memungkinkan untuk bisa masuk ke kota selain lewat dua jalan utama tadi. Mereka tidak bisa melewati jalur pegunungan—sebenarnya tidak ada yang mau karna saking terjalnya. Masing-masing jalan utama memiliki pintu gerbang raksasa, dan di jaga oleh pasukan-pasukan kota.

Meskipun sebenarnya pada masa-masa itu perang sudah berakhir, manusia sudah lebih damai, namun kerajaan dan wilayah-wilayah berdaulat tetap mempertahankan keberadaan militer, dan setiap hari mereka berlatih. Karena sisa-sisa kejahatan dari musuh sebelumnya belum hilang sepenuhnya, tinggal menunggu waktu saja untuk kejahatan kembali lagi. Dan manusia kebanyakan menyadari hal itu, bahwa—

"Kenapa perdamaian ini harus dipertahankan? Kalau musuh sudah tidak ada seharusnya kita sudah saling percaya, tidak curiga lagi, dan tidak ada lagi yang perlu dipertahankan karna pertempuran sudah berakhir. Tapi perasaanku mengatakan hal yang tidak enak. Sudah sering manusia mengatakan 'Jagalah Perdamaian! Jagalah Perdamaian', bukankah seperti sebuah ramalan, seolah kejahatan tidak akan pernah hilang."


Az Aera tidak menganut sistem kerajaan seperti kebanyakan wilayah di Bumi (saya masih lupa nama dunia nya apa, kita sebut saja Bumi). Namun tetap saja, kota itu dipimpin oleh seorang penguasa, dan Ia hanya dipilih berdasarkan garis keturunan. Kalau mengingat sejarah panjang Az Aera, saya menjadi agak bersemangat. Dulu kota ini adalah pusat persenjataan dari salah satu kerajaan adi daya di masa lalu — sebelum pertempuran besar abad ke dua terjadi. Pada abad ketiga, wilayah ini direbut, dan menjadi pusat dari Kerajaan Pegunungan, atau sampai sekarang di kenal dengan nama Alasthia. Di masa pemerintahan Raja Alasthia ke-12, wilayah ini diberikan kepada sahabat karibnya, dan Kerajaan Pegunungan itupun pindah, melsayakan migrasi besar-besaran ke Timur, menuju pegunungan Anan. Sedangkan selang beberapa puluh tahun kemudian, tepatnya pada masa akhir-akhir abad ke empat, wilayah Az Aera lahir menjadi sebuah kota — setidaknya sampai saat ini.



Kisah yang pernah saya publish dulu yang saya ingat menceritakan tentang perjalanan Aseera bersama Willhock. Mereka berdua berburu, mencari makan untuk Naga milik Willhock, hingga mencapai padang Hafanar, sebuah wilayah di luar pegunungan. Iya, mereka berdua berhasil keluar dari kota — meskipun secara ajaib — Willhock ini memang selalu bisa lolos dari penjaga. Perburuan mereka waktu itu sebenarnya bukan pertama kalinya bagi Aseera, namun waktu itu adalah jarak paling jauh yang pernah Aseera tempuh — secara tidak sengaja. Sebab, sebelumnya entah kenapa mereka di serang oleh Ar’goz, monster purba jaman dulu, yang tinggal di rawa-rawa. Mereka lari dari kejaran, hingga Ar’goz memnbuat mereka terjatuh, dan terpental jauh, hingga sampai Hanafar. Di padang itu, mereka juga secara tidak sengaja menjumpai Threvonoz, rusa hitam purba. Makhluk-makhluk purba ini tidak seharusnya mudah ditemui, mereka tidak pernah muncul semenjak abad ke 2 setelah pertempuran besar. Harusnya telah terjadi sesuatu, atau akan terjadi sesuatu. Namun, generasi pada abad ini, tidak memperdulikan lagi kegelapan di masa lalu. Mereka mencoba melupakan kegelapan yang dulu pernah terjadi, dan memulai hidup baru di bawah bayang-bayang.

Salah satu peninggalan yang masih tersisa dari kegelapan itu adalah para Hedhei, yang sampai saat ini masih setia kepada majikannya. Meskipun mereka hidup dalam persembunyian dan jarang sekali keluar, namun mereka tidak pernah berdiam diri saja. Para hedhei ini, juga muncul, dan menyerang Aseera dalam perburuannya. Dan banyak hal-hal tidak wajar yang entah kenapa pada hari itu terjadi. Aseera tidak memikirkan hal yang tidak-tidak, sebab memang dia adalah generasi baru di abad ini. Sementara itu, di lain sisi, di dunia luar, mulai muncul banyak kehebohan. Berita-berita nya sangat sulit sekali masuk ke Az Aera. Yah, Az Aera yang sekarang lebih tertutup lagi dari dunia luar — sebenarnya mereka tidak suka berita-berita buruk. Penguasa Kota pernah mengatakan pada hari besar, “saya tidak ingin kita terlibat masalah-masalah, jadi menjauhlah dari masalah!!!”.

Kisah perburuan Aseera ini kalau tidak salah saya publish sampai 3 bagian. Lalu setelah itu saya juga sempat mem-publish kisah Pangeran Gorgoro. Sayangnya, semua postingan itu hilang, atau kehapus lebih tepatnya, bersamaan dengan hari Penghapusan Massal blog & website ku jaman dulu. saya masih memikirkan kisah-kisah ini, pengennya sih secara bertahap saya bakal publish di sini. Mungkin bukan cerita utuh, tapi berupa potongan-potongan kisah yang pada saat itu lagi saya kreasikan. Dunianya masih tetap sama, dan akan terus saling berhubungan. Kalau bisa sih, saya sampai pada kisah klimaks nya, yang sangat dahsyat. Di mana akan ada banyak pertempuran muncul, dan hari bayang-bayang yang kembali ada, menyelimuti Bumi.