Puthuk Gragal: Dan Camping Akhir Tahun 2020

Puthuk Gragal: View Pagi Hari
Puthuk Gragal: View Pagi Hari

Sejak bulan november lalu saya lagi tertarik nonton konten-konten solo bushcraft orang luar di YouTube. Saya memang suka hal-hal yang berbau alam dan petualangan—apalagi naik gunung—walaupun fisik setara manula (beban tim) karena jarang olahraga hehe. Dan yeah, saya selalu meng-agendakan untuk pergi refreshing. Meski katakanlah setahun sekali, pokoknya kudu berangkat untuk menenangkan maupun mencharge ulang pikiran. Dan akhir tahun ini, setelah beberapa minggu terakhir nonton solo bushcraft, saya pun terinspirasi dan memutuskan pergi camping, menginap selama 1 malam. Saya berangkat seminggu setelah planning—dan entah kenapa bisa tepat waktu, biasanya suka molor.

Apa yang saya cari dari kegiatan kali ini adalah secercah ketenangan berfikir dan melepas penat di tahun yang sangat penuh dengan tantangan. Hal ini mungkin dapat membantu saya lebih fresh menjalani hari-hari berikutnya.

Just me

Kemudian, atas rekomendasi dari salah seorang teman, awalnya saya akan camping di Gunung Arjuno, tepatnya di Pos 1 Pet Bocor atau Pos 2 Kokopan, tergantung situasi juga. Tapi waktu tiba di pos pendakian via Tretes, ternyata Arjuno sedang ditutup sampai waktu yang belum ditentukan—karena pandemi. Akhirnya tujuan pun diganti ke Puthuk Gragal. Oh iya, sebelumnya, saya juga mengajak teman saya Mas Gallan, dan alhamdulillah bisa ikut. Sehari sebelum berangkat, saya menyiapkan peralatan pendakian (matras dan sleeping bag) dan beberapa logistik untuk dimasak saat camping. Kebetulan dirumah ada sisa frozen food seperti nugget, sosis dan ayam. Saya pun membawanya (plus minyak goreng) karena saya pikir bakal asik kalau dimasak di gunung. Tidak banyak, cuman saya jatah cukup untuk dua orang. Sisa logistik lainnya seperti mie instan, air mineral, energen dan lain-lain kami beli pada saat perjalanan. Final packing kami lakukan setelah mengambil tenda dan peralatan masak di rental peralatan outdoor “Pos 0 Penanggungan”. Disini jugalah kami oleh mas-mas rentalnya dikasih tahu tentang Puthuk Gragal, kalau wisata pendakian ini baru dibuka sekitar 1 – 3 bulan yang lalu dan kami belum pernah kesana.

Puthuk Gragal: Peta Jalur Pendakian

Peta jalur pendakian

Diberikan oleh petugas basecamp

Singkat cerita, dari pos pendakian Arjuno via Tretes, kami langsung menuju ke Puthuk Gragal dan tiba di basecamp sekitar pukul 13:00 siang. Disana ada registrasi serta briefing singkat mengenai aturan yang berlaku. Kata petugas, idealnya lokasi camp adalah di pos 4 atau di camp ground sebelum puncak. Tapi karena tujuan utama saya adalah camping, saya ingin bersantai dan tidak ingin terlalu capek. Jadi, kami tidak mengincar puncak. Kami rencana akan mendirikan tenda jika menemukan tanah lapang saat perjalanan mendaki—kebetulan ketika saya tanya ternyata hal ini diperbolehkan oleh petugasnya. Dan akhirnya kami membuka tenda di pos 2, di tengah hutan yang masih terbilang cukup liar. Di pos 2 hanya ada shelter kecil untuk pendaki istirahat dan space area (sedikit miring) untuk 1 tenda saja, sisanya adalah hutan belantara di sisi kiri, tanjakan di sisi depan dan jurang menuju mata air di sisi kanan. Kami tiba di pos 2 pukul 14:00 sore.

Puthuk Gragal: Masak

Masak, makan, dan gerimis

Tidak banyak kegiatan berkemah yang kami lakukan—sebab sejak sore sudah gerimis—dan hujan lebat malam harinya. Saya dan Mas Gallan hanya masak, makan dan mengobrol beberapa topik bahasan sambil berselimut sleeping bag karena hawanya semakin dingin. Sialnya lagi, kami lupa menutup ventilasi tenda sehingga bocor dan rembesan airnya melembab ke dalam. Malam itu kami juga sempat ditemani oleh suara aktifitas beberapa pendaki lain yang berteduh di shelter. Paling tidak sampai hujan berhenti, setelah itu jarang ada yang naik atau turun, relatif sepi dan hening manusia. Hanya terdengar berisik suara hewan-hewan hutan yang khas, serta hawa asri pegunungan malam hari yang menghipnotis kami. Sangat tentram, sangat menenangkan.

Puthuk Gragal: View Tenda Saat Malam

Sudut pandang tenda dari luar yang kami lihat saat malam hari setelah hujan lebat

Saya dan Mas Gallan punya kepentingan yang sama, menikmati udara pegunungan, melepas penat sejenak dari hiruk pikuk kehidupan normal. Kami mengobrol banyak hal tentang rencana hari ini dan rencana masa depan. Sedikit membuka pandangan saya untuk planning kedepannya mau apa. Berada di alam juga mengajarkan saya bahwa sebagai manusia, kita harus peduli dan memikirkan hal-hal yang ada di sekitar kita. Saya seolah diajarkan bagaimana memahami segala aspek kehidupan, sopan santun, kenapa itu ada dan kenapa ini ada. Mungkin udara di gunung memiliki manfaat yang baik bagi sirkulasi otak, sehingga membuat pikiran lebih jernih. Percaya atau tidak, ketika sedang di alam liar, ada semacam sugesti yang membuat kita harus selalu berfikir positif dan menjaga tata krama.

Saat hujan di malam hari, kami juga mengobrol seputar Kisah Tanah Jawa serta mitos-mitos yang beredar. Kisahnya sangat epik sebenarnya. Namun, saya adalah orang yang menganggapnya sebagai dongeng sebelum tidur dan salah satu fiktif yang tidak untuk diyakini. Kalaupun misal kisah itu nyata, lantas apa? Terlalu banyak hal mistis tentang makhluk lain—jin, yang seolah-olah kita sebagai manusia, kebenaran dan kejadian-kejadian yang terjadi bergantung kepadanya. Memang ini karena budaya leluhur atau pengaruh ajaran di masa lalu. Ironisnya masih banyak yang mempercayai dan menganggap itu sebagai hal benar yang patut untuk diajarkan. Jika ada kebaikan yang wajar disana, maka ambil itunya saja.

Just me
Puthuk Gragal: Bertapa

Paginya langit cerah dan hawanya sangat sejuk. Saya dan Mas Gallan pun kembali menikmati alam sekitar—sampai cukup siang untuk kami bongkar tenda dan turun. Kami lebih santai saat turun dan menyempatkan singgah ke tempat-tempat yang waktu naik kami lewati. Kami pun sampai lagi di basecamp dan pulang sekitar pukul 11:00 siang. Meski sangat singkat, namun saya menemukan sedikit ketenangan dan pikiran positif dalam perjalanan kali ini. Hal ini dapat membantu saya lebih baik kedepannya untuk berfikir yang matang terlebih dahulu sebelum bertindak. Lain kali, saya akan lebih rutin mengatur jadwal untuk kembali refreshing di alam.

By dalikewara

Written by Dali Kewara who lives and works as Backend Developer—building useful and unexpected things—in Indonesia. He also has interests in art, writing and journey (traveling). His life motto is "Make it simple but Spectacular!"

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *